NEW UPDATE

Operator CDMA Di Indonesia Terancam Punah!


Tahun 2014 sepertinya akan menjadi tahun bagi operator CDMA di Indonesia untuk mengakhiri riwayat hidupnya sebagai penyedia layanan telekomunikasi berbasis CDMA.

Ada empat operator CDMA yang akan memilih mati dan menutup bisnis layanan CDMA nya di Indonesia yakni Flexi, StarOne, Hepi, dan Esia. Setali tiga uang, keempat operator tersebut mengambil langkah yang sama untuk nasib mereka.

Benar-benar jumlah yang cukup banyak mengingat mereka adalah perusahaan besar. Tragis dan seolah-olah menggambarkan sebagai aksi bunuh diri masal.

Flexi

Flexi, layanan CDMA dari Telkom adalah operator pertama yang memilih jalan untuk melikuidasi layanannya dan akan menjual sekitar 4000 BTS Telkom Flexi. Kalah pamor dari GSM Telkomsel, jumlah pelanggan yang merosot drastis, pendapatan menurun dan ekosistem CDMA tak kunjung berkembang adalah momok yang disandang Telkom Flexi.

Akibatnya, 11,6 juta pelanggan Flexi akan dipindahkan ke layanan GSM Telkomsel sebagai upaya dari Telkom Flexi.

StarOne

PT Indosat Tbk pun juga menutup dan menghapus StartOne sebagai layanan fixed wireless access (FWA) berbasis CDMA. Semula, StarOne memiliki jumlah pelanggan sekitar 300 ribu namun merosot drastis hingga hanya 3000 orang. Belum lagi layanan Fixed Wireless Access (FWA) CDMA kurang diminati oleh pengguna di Indonesia.

Seperti pelangan Flexi, pelanggan StarOne pun nantinya 3000 pelanggan itu juga akan dioper ke layanan GSM Indosat.

Esia

Nasib naas juga dialami oleh Esia, pasalnya PT Bakrie Telecom Tbk (Esia) menanggung rugi sebesar Rp 1,5 triliun pada kuartal III 2013. Tak hanya mengalami kerugian, Esia pun justru mengurangi operasional sejumlah BTS-nya setelah dicabut oleh penyedia menara akibatnya pelanggan pun terus mengalami penurunan. Parahnya lagi, Esia sepertinya juga memerlukan dewa penolong bagi bisnisnya untuk diakuisisi.

Hepi

Apakah Anda pelanggan Hepi ? Hepi adalah layanan milik Smartfen yang juga berbasis CDMA. Tak pernah terdengar kabarnya, Hepi pun muncul di permukaan justru untuk mengakhiri riwayat hidup layanannya. Malang benar nasib Hepi,  punya frekuensi 800 MHz pun itu adalah kompensasi pemindahan Flexi dan StarOne ke pita 800 MHz.

Bagaimana dengan nasib Smartfren ?

Dari keempat operator layanan CDMA di atas, hanya nasib Smartfren yang masih bisa dikatakan lumayan. Sebenarnya Smartfren juga mengalami rugi sebesar Rp 1,54 triliun atau naik 52 persen dibandingkan periode tahun sebelumnya sebesar Rp 1,01 triliun.

Namun, Smartfren satu-satunya operator CDMA yang gencar mendatangkan smartphone Android berbasis CDMA, berbagai seri dengan harga dan spesifikasi mewarnai pasar gadget Indonesia. Bahkan, smartphone keluaran Smartfren adalah merek nomor dua paling populer di Indonesia.

Meskipun demikian, Smartfren juga sudah memiliki ancang-ancang untuk bermigrasi ke Long Term Evolution (LTE) di pita frekuensi 2,3 GHz. Setidaknya sebagai langkah antisipasi dari Smartfren jika dibanding harus mengakhiri hidupnya sebagai operator CDMA.

Kalah saing, pendapatan yang jeblok, penurunan pelanggan, masalah frekuensi, infrastruktur dan ekosistem yang tak berkembang hapir semuanya menjadi momok dan dialami oleh empat operator layanan CDMA di atas.

Apakah ini pertanda CDMA di Indonesia benar-benar akan punah dari negeri ini ? Mungkinkah itu semua jalan terbaik bagi operator CDMA Indonesia ?

Blog Pendukung

KOLOM IKLAN :








    Back To Top